Cirata, Tidak Membuat Saku Rata

Lama memang saya tidak menulis di blogs lagi. Tapi baru-baru ini ada dorongan untuk mencoba menulis dan mengasah kembali kemampuan saya dalam menumpahkan isi hati kdalam tulisan.

Kali ini saya akan mengulas tentang perjalanan saya ke Cirata, sebuah danau buatan yang sebenarnya adalah sebuah bendungan untuk keperluan PLTA. Tapi saya tidak akan membahas tentang PLTA, tapi kembali, tentang makanan.

Minggu pagi ketika pulang piket dari tempat saya bekerja, saya ditelepon Tyto, sahabatku sejak STM. Dia mengajak saya untuk ke tempat teman kita juga, Chairul, atau saya biasa memanggilnya JAWS,karena mukanya mirip ikan hiu…(hehhe, jangan dianggap becanda yaa…)

Singkatnya saya tiba di rumah Jaws. Memang rumahnya dekat dengan Cirata. kurang lebih 20 menit lagi untuk sampai ke cirata dari rumah Jaws. Kemudian tak berselang berapa lama, Tyto datang dengan pacar barunya, Titie (tyto jeung titie, ke anakna TOTI). Indrawan, Hesty, dan Derry juga kemudian datang memakai si Kuning(mobil.red).

Akhirnya setelah kumpul semua, kita langsung berangkat. Sesampainya disana, kita menyempatkan diri untuk berfoto-foto.

dari ki-ka : Tyto, Indrawan, Saya, Derry, dan Jaws (si ikan hiu)

Hesty, dia akhirnya ikut

Perjalanan kami lanjutkan ke tempat makan. Tadinya mau ke tempat kolam terapung dulu, tapi gak jadi, karena tempatnya belom dibikin dan saya memang ngarang (terus naon???). Sampai juga di tempat makan. Saya langsung memesan Kelapa muda yang bukan konon, memang langsung dipetik dari pohonnya langsung, tapi gak petik sendiri kayak strawberry di Ciwidey.

buah kelapa yang masih segar karena baru dipetik dari pohonnya.

Siluet foto ini cukup membuat saya mencintai diri saya sendiri  (dan si kelapa)

foto orang-orang yang baru jadian (saya kapan?)

Kedamaian dan keheningan danau Cirata sejenak terusik dengan kehadiran si ibu yang datang dengan ikan bakar, lengkap dengan sambal jahe, lalapan, dan sebakul besar nasi, dan tentunya dengan piring dan gelas. sengaja saya tidak upload foto-foto pas kita makan, karena biar menambah rasa penasaran anda untuk berkunjung ke sana.

suasana sore hari di Cirata, hening dan damai.

begitu tenang dan damai.

Kami berangkat kesana 8 orang. Ketika kami selesai makan, kemudian Jaws menanyakan berapa yang harus kami bayar untuk 4 butir kelapa, 9 ekor ikan mujair bakar, dan satu bakul besar nasi. Ibu itu menjawab “sadayana janten saratus rebu, Sep” “Semuanya jadi seratus ribu, Ganteng“. Saya tau waktu itu si Ibu lagi berbohong ke si Jaws dengan kata-kata “Sep”. Sungguh di luar dugaan, kalau dihitung-hitung, dengan jumlah 8 orang, dan total yang harus dibayar, berarti satu orang cukup mengeluarkan uang Rp.12.500,00. Wehehehe, cukup murah ya….

Tempat ini memang saya rekomendasikan buat teman-teman yang ingin merasakan suasana danau yang tenang, tanpa harus merogoh kocek yang besar. Tempatnya sangat mudah dijangkau. Kurang lebih 1,5 jam dari Bandung. Jadi, buat teman-teman yang ingin berkunjung, silakan saja dan nikmati pengalaman nya.

Tempat : Danau Cirata, Cikalong Wetan
Waktu : 1 Mei 2010, jam 17.00 WIB
Foto : diambil dengan menggunakan HP LG KP500 Cookie
untuk foto lebih lengkap, silakan klik disini

5 thoughts on “Cirata, Tidak Membuat Saku Rata

  1. Siluet foto ini cukup membuat saya mencintai diri saya sendiri (dan si kelapa) => hahaha.. :))
    Ajak orang2 kantor atuh do, biar bisa ikutan..😛

  2. @cicifera :

    itu karena yang lain memang berpasangan, tapi saya ga ada pasangan nya, kebetulan si kelapa lg jomblo, ya udah aku temenin dia.huuhahahhaaa….

    kayaknya orang-orang kantor pada sibuk terusss…heuheuheu. sok atuh cobain ama teh cici.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s