Jogja Dalam Heningku, Al-Manira…

3 hari sudah sejak tulisan ini diposting, aku terbaring. Tubuhku memaksa untuk beristirahat. Sungguh tak enak menjadi sakit itu, pekerjaan tertunda, pertemuan tertunda. Dalam pembaringan sakitku, pikiranku tiba-tiba tertambat di tengah-tengah pulau Jawa, tepatnya daerah yang di istimewakan, yah, Jogja. Sebuah daerah yang tidak tahu kenapa setiap aku kesana selalu menyimpan kesan dan memaksa aku untuk kembali. Tak ingat sudah berapa kali aku kesana, tetapi perasaannya selalu satu, RINDU. Rindu suasananya, rindu hiruk pikuknya, rindu masyarakatnya, rindu bau masakannya, rindu ramah tamahnya, rindu segalanya.

Masih terlukis juga ceritaku tentang gadis Jogja yang sempat singgah, Al-Manira. Ah..Nira, jika saja kamu bisa membagi waktu antara kuliahmu dan waktu buatku, mungkin kita hari ini masih membahas gimana caranya bikin komik yang sederhana tapi lucu. Obat apa yang mesti aku minum ketika sakit dadaku kambuh.

Al-manira…kalau saja waktu itu kamu tidak memutuskan untuk tidak lagi bertemu denganku, tentu cita-cita aku dalam perjalanan ke Jogja menemui Bapakmu akan terwujud. Dulu itu kita bagai kucing-kucingan karena kesibukanmu. Aku ke Jogja kamu ke Bandung, ketika aku di Bandung kamu harus mengurus Ko-ass mu di Jogja. Sampai masih teringat kata-kata kamu Nira, kalau Bandung itu bisa ditempuh 11 jam dengan kereta, 1 jam dengan pesawat, tapi tak sedetikpun dengan hati, sungguh sampai detik ini kata-kata itu masih terpatri tajam.

Almanira…Jogja, kala itu telah mengirimkan aku satu wanita yang aku sama sekali sulit menebak perasaannya, yang justru malah membuat aku semakin penasaran. Ah sudahlah, itu hanya bab dari buku kehidupanku. Sebenarnya tak ingin aku menulis semua ini, tapi akhirnya semua harus tahu kalau aku pernah menemukan kamu, wanita yang berani diam-diam mengambil handphone ayahnya untuk diam-diam meneleponku sangat lama, ketika sengaja tak kuangkat dan kala itu kamu marah, ya benar, sebegitu marahnya sampai ketika ditelepon balik kamu bilang aku gak pernah pegang HP. Lucu kamu itu Nira…

Almanira…jika kata Pidi Baiq Bandung itu bukan hanya soal letak geografis, melainkan urusan perasaan, maka Jogja bagiku sama. Jogja adalah rumah kedua buat kita, buat hati yang sempat dipisahkan jarak. Apa kamu masih ingat ketika kamu bertanya kenapa aku suka kamu lantas aku jawab, itu karena kamu calon dokter bedah, kalau kamu bisa bedah perut orang, masa kamu tidak bisa bedah hati aku. “hayah…!!!” , kata-kata itu yang sering kamu ucapkan Nira…kata yang berarti “gombalan gak bermutu”, tapi jujur Nira, aku berani gombal karena kamu.

Almanira…hari ini, dikamarku ini, dibalik jendela bisa aku saksikan hujan yang turun, yang dulu waktunya sama ketika aku menjemputmu di Hussein Sastranegara, waktu kamu bilang “Tau nggak, kalau hujan itu adalah cara langit memeluk bumi?”, lantas aku tanya “kalau cara kamu memeluk aku gimana???”, tanpa aku sadar kamu lingkarkan tanganmu dan kita mulai menembus Bandung setelah hujan.

Almanira…bukankah kamu pernah bilang kalau kamu akan menemuiku suatu hari di gerbang Unpad, gerbang yang dulu kita beli jagung rebus itu, yang kata kamu ini jagungnya pasti pakai pemanis buatan. Tapi sungguh Nira, manismu sungguh bukan buatan, sangat jauh dengan jagung rebus yang dulu kita makan berdua. Hahaha, tak kamu habiskan semua, cuman setengahnya, aku yang habiskan sisanya. Mang siapa yah aku lupa lagi nama penjualnya, Nira. Tak begitu penting, karena yang terpenting hari itu aku duduk berdua denganmu di motor yang kustandarkan.

Almanira…hari ini aku rindu Jogja lagi, rindu kamu lagi. Dimanapun kamu berada, dengan siapapun kamu, suatu saat jika Allah mengijinkan, maka akan kutemukan lagi dirimu. Cepat lulus Nira, cepat tercapai cita-cita kamu yang selama ini kamu impikan, kalau soal aku, lupakan saja, melihat kamu berhasil adalah kebahagiaan buatku. Jika suatu hari kita benar-benar bertemu dan perasaanmu terhadapku sudah biasa-biasa saja, maka aku akan ikhlas, karena itu adalah urusanmu. Yang pada akhirnya aku tahu, kalau selama ini perasaanku terhadapmu itu berbalas.

Terima kasih buat semuanya, Nira, kamu telah membangkitkan keinginan menulisku.

Bandung, 7 November 2013,

Untuk kamu,

Malika Al-Manira Tsasqiya.

2 thoughts on “Jogja Dalam Heningku, Al-Manira…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s