Aku bukan Denny

Sore ini, turun dari bis jemputan, kebetulan stopan leuwi panjang dalam keadaan lampu merah, sehingga turun dari bis pun agak mudah. Dengan setengah berlari kulangkahkan kaki menuju tempat angkot 05 ngetem, yaahh, 200 meteran lumayan bikin jaket baruku basah, perkenalan dengan air hujan mungkin. Oh iya, hai hujan, ini Bandungku, mau hujan, mau panas, terserah.

Akhirnya aku dapat angkot yang sengaja memutar arah, dan alhamduillah tidak sempat ngetem itu angkot. Aku duduk di angkot, posisinya tepat di belakang sopir, ingin rasanya dari belakang aku tutup mata sopir itu terus bilang “Coba tebak aku ini siapa?”, cuman aku urungkan niatku, karena bahaya. Angkot melaju, beberapa orang ada yang naik. Aku lihat ada keluarga kecil disana, di luar angkot, di pinggir jalan yang juga masih hujan. Tampaknya mereka mau berangkat ke pameran “Cibaduyut Fair” di TVRI Jabar Banten. Dan benar saja, mereka men-stop angkot di depan TVRI, tepat di depan kerumunan anak-anak cwek SMA yang nunggu angkot sambil nunggu hujan reda.

Keluarga itu turun, dan serentak anak-anak SMA itu berebutan naik angkot yang aku naiki juga. Hmmm, dari tampangnya sih, palingan baru kelas 2, kelas 8 kali yah kalau sekarang ini. Ini anak-anak riweuhnya minta ampun, semuanya berebutan ingin duduk dekat pintu. Sampe penuh sesak ini angkot, takut meledak. Angkot melaju lagi. Anak yng duduk disamping aku itu paling riweuh, dari tadi aku lihat dia sibuk ngecek HP nya terus menerus. Kata temannya,

“Udah Rin, sms aja…bilang udah di angkot”.

Hmmm, gak jelas namanya Rini, Arin, Rina, Atau apa? gak jelas.

“iya ini mau aku sms, tapi kayaknya gak apa deh..gak jadi”.

Kata dia, dengan sedikit menggeserkan pundaknya sehingga beradu dengan pundakku. Dari sini mulai nih, anak-anak ini mulai menggoda. Sebut saja si Arin itu mulai menyandarkan bahunya ke bahuku, sambil dia melirik ke arahku, aku balas lirik dia sambil senyum.

“Udah Riiiiinnn…anggap aja Deny…yang lain ngontraakkk!!!” kata temen di depannya.

“ACIIIIIEEEEEEEEE………..” jawab semua temannya.

Sumpah perasaan aku bercampur aduk disitu, mau bales gimana? mau gak bales gimana?. Akhirnya aku kembali senyum-senyum saja sambil ngoprek BB aku yang lowbatt.

Dia jauhkan lagi badannya, tapi dengan isyarat mata aku bisa liat temannya yang tadi menggerak-gerakkan matanya ke arah posisi duduk aku, lantas si Arin nyenderin lagi badannya ke badanku, dan…….

“CCCCIIIIIIIEEEEEEEEEEEE………”

kata-kata itu lagi yang keluar dari mulut teman-temannya.

“Heeehh…si Denny nelpon!!!”

“angkat-angkat!!!!”

“trus yang ini gimanaaaa???”. Temannya ngarahin matanya lagi ke arahku.

“angkat aja ah…Hallo Den…iyaaa, udah di angkot ini, tadi lama, jadi aku naik angkot ama temen. Iya…Iya..di Cangkuang aja yah…”.

Kayaknya itu telepon dari Denny.

“aduh, si Denny udah nunggu di trowongan TCI tadi, eh, trowongan udah kelewat kan???”.

“Iyaaa laahhh…tadiiii”.

“Ya udah aku nunggu si Denny lewat aja….”.

Dia bilang gitu sambil nyandar dibahuku. Oh dewa zeus, aku sudah sadar selalu ada cerita kalau Bandung lagi hujan, dan ini keren, dibuat begini oleh anak-anak SMA.

“itu si Denny, itu si Denny…Dennyyyyy…Dennyyy…..maanggg….kiri maangg…DEEENYYYYY!!!!”.

Angkot berhenti mendadak, Arin langsung turun mengejar cowok basah kuyup kehujanan yang sekarang aku tahu kalau itulah Denny, pria dengan rambut mohawk tanpa helm, celana pendek, motor bebek honda dengan kenalpot bising. Sebelum Arin turun, dia sempat pamitan ke teman-temannya,

“Ayoooo…aku duluan yaahhhh….”, dia juga sempat menoleh ke arahku “Aa, duluann”

“Oohh…hehehe, iya iya…” jawabku.

“AAAAAAACCCCCIIIIIEEEEEEEEEE…….!!!!!”

kata-kata itu sekali lagi keluar dari mulut mereka.

Sore itu, sore hujan itu, ada banyak perasaan yang aku alami, perasaan yang paling inget adalah, terbukti bahwa kita itu masih berani kalau keroyokan, belum berani kalau satu lawan satu.. ahahaha. Hey Arin, titip salam buat Denny mu itu, lain kali bawa helm biar dia dan kamu selamat, salam juga buat teman-teman kamu, kalian yang ada di masa depan adalah apa yang kalian lakukan hari ini, sore tadi terhadapku, semoga kalian juga bisa nyekill dalam belajar, menuntut ilmu. Ahhh, sudah sampai pertigaan, sudah saatnya turun, aku kasih 10 ribu, dikembalian 7 ribu, ah memang BBM sudah naik. A…kalau si neng besok naik, iyah yang tadi pinggir aku itu, bilangin, aku Ado,punten gituh jangan disamain sama Denny.

Bandung, 14 November 2014

Cibaduyut – Cangkuang dalam perjalanan pulang.

2 thoughts on “Aku bukan Denny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s