Olin (Part 1)

Ketika aku menulis ini, Bandung kini sama dengan Tasik, dingin, anginnya menusuk. Sekarang aku sedang berada di beranda rumah, dalam malam, gitar yang sedari tadi ku petik terpaksa aku sandarkan, karena harmonika pemberian Ipang BIP ini lebih menarik bagiku. “Masih belum pas”, pikirku dalam hati. Gampang-gampang susah main harmonika itu. Lagi-lagi, harmonika pun aku taruh. Aku menerawang, mengingat dulu, ketika Olin, wanita dengan rambut sebahu dan selalu menggunakan pita itu pernah bersamaku, di pantai, sore, kira2 jam empat. Aku memang sengaja mengajaknya hari itu, hari yang tak pernah aku lupakan.

Sore itu aku dan Olin, berjalan menyusuri bibir pantai yang ombaknya sedang, sesekali buihnya menghampiri kakinya, karena dia memilih untuk berjalan disebelahku. Tentu saja kami berjalan sangat jauh, sampai kami menemukan pohon kelapa tumbang, tepat dipinggir batu-batu karang.

“Aku yakin dengan duduk disini, indah juga menyaksikan matahari kembali ke peraduannya”.

“Kamu yakin Rif? gak bakalan kayak dulu lagi kan, kita salah tempat, kamu yakin ini pantai barat kan??”.

“iya Olin, ini pantai barat, dulu memang aku salah, dan aku gak akan mengulangi kesalahan lagi” kataku.

“Lin, tau kan, kalau angin pantai ini pernah menyibakkan urang rambutmu ke wajahku?”

“…dan di pantai ini kamu cerita tentang pangeran dan putri bungsu”. Katanya.

“Iya, aku masih ingat. Aku masih ingat mata birumu, tak pernah lepas memandang ombak, memandang aku”.

” lembayung senja lantas tersenyum, pada kita, aku dan kamu…”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s